Artikel

Aminudin Aziz, Pensiunan yang Sukses Usaha Pembibitan Alpukat Miki

Saat ini alpukat miki sedang ramai dibicarakan. Yuk ketahui cerita dari petani yang berhasil membudidayakan alpukat miki dan potensinya di masa mendatang. Namanya Aminudin Aziz, dia seorang pengusaha bibit alpukat miki dan juga alumni dari Fakultas Pertanian Unsoed angkatan ’80. 

Tim Kominfo dan Ketua Umum Kafaperta, SH Sutarto, berkesempatan untuk berkunjung ke kebun bibit miliknya di Kawasan Depok, Jawa Barat. Dilahan hanya seluas  500 meter dengan memanfaatkan pekarangan rumah ia sulap menjadi tempat budidaya alpukat miki.

“Saya melihat peluang pasar dari alpukat miki dan juga didukung lingkungan.  Saya tinggal di Depok di mana menjadi pusat pengembangan awal dari alpukat miki maupun alpukat cimpedak” ungkap Aziz.

Pensiunan yang telah berkerja di Dirjen hortikultura Kementerian Pertanian selama 30 itu, membagikan cerita bagaimana cara memulai usaha pembibitannya. Dia mengatakan bahwa tidak ada modal saat memulai.

“Bisa dibilang tanpa modal karena saya 2017 masih bekerja. Saat minum jus alpukat  di depan kantor saya pun meminta mereka mengumpulkan bijinya. Satu kantong dua kantong kita bawa ke rumah dan kita semai di media pasir, kemudian kita sungkup dengan plastik . Dan itu tumbuh. Kemudian kita sambung  dengan batang atas pohon alpulst miki. Itupun saya minta juga. Seberjalanannya waktu dengan ragam error hingga sekarang bisa. Pokoknya jangan takut untuk teman-teman yang ingin memulai usaha pembibitan, yang penting adalah kemauan. Tanpa modal pun bisa berjalan,” jelasnya. 

Tonton wawancara videonya di sini ya:

Adapun keunggulan dari alpukat miki yaitu buahnya yang sangat lembut. Buah ini pun diminati konsumen di pasar modern dan juga tahan terhadap serangan ulat. Selain itu produktivitasnya tinggi.

“Dalam 1 kg biasanya ada 2-3 butir alpukat. Daun alpukat ini tahan terhadap ulat karena daunnya mengandung enzim proteaso yang bila dimakan ulat, ulat bisa pingsan. Serta produktivitasnya tinggi dari indukannya,  di usia 12 tahun saja dia bisa mencapai 900 kg. Menariknya alpukat ini pernah juara nasional dengan harga retail  sekitarRp 50 ribu. Ini baik juga sebagai substitusi bagi alpukat jenis lain”

“Alpukat miki bisa dikosumsi alpukat miki bisa dikosumsi tanpa tambahan lain seperti gula atau susu. Kita bisa  menikmati langsung layaknya pisang. Jika dari sisi pasar tebuka lebar bahwa konsumsi semakin ke sini meningkat , dengan kesadaran tigkat gizi yang luar biasa. Konsumennya pun menjangkau semua usia,” papar Aziz. 

Aziz pun juga mengatakan segmen pasar dari usahanya menyasar ke pekebun. Namun dia juga membuka pintu untuk orang-orang yang menanam alpukat untuk hobi saja. Teruntuk omset dia bisa mendapatkan uang hingga 20 juta.

“Segmen pasar  kita lebih ke pekebun karena mereka sekali minta 100, 200, 400 bibit.  Kalau hanya hobi, untuk sendiri paling sekitar 1-10 batang. Omset satu bulan sekitar 200 batang dan dikali Rp 100 ribu, berarti Rp 20 juta. Saya memanfaatkan lahan seluas 500 meter,”

“Di sisi lain kami menjalin mitra reseller untuk memasarkan, hingga pemasaran semakin luas.  Kami telah menjual ke luar Jawa, sampai Pekanbaru dan Lampung.  Teruntuk Jawa kita sampai ke Jawa Timur. Juga Jabodetabek dan Jawa Barat,” ungkap Alumni Sosial Ekonomi Pertanian angkatan 80 itu.

Aziz mengatakan bahwa dia hnya menjual bibit siap tanam yang sudah berukuran 1 meter. Jika lebih kecil bibit lebih rawan untuk mati. Serta saat di lapangan bibit dengan ukuran 1 meter lebih tahan. Kondisi ini juga memotong usia produktif serta ada kecendrungan pohonnya cepat berbuah. 

Aminudin Aziz bersama Ketua Umum Kafaperta SH Sutarto

Teruntuk bisa memasarkan bibitnya, Aziz mengatakan tidak hanya fokus pada pembibitan saja. Namun juga perlu menjalin relasi dengan komunitas lain. 

“Penyedia bibit sangat berpotensi dan kita harus paham betul segmen mana yang akan dibidik. Penting juga untuk melakukan promosi dan komunikasi dengan beragam komuniitas untuk memperluas segmen pasar kita,” ucapnya. 

Untuk bisa bergerak lebih luas ke depannya, Aziz pun  membangun KBHI yaitu  Kontak Bisnis Holtikultura pada tahun 2016.  Anggotanya pun semua kalangan dan tersebar di seluruh Indonesia.

“Di tahun 2016 saya menginiasi  Kontak Bisnis Holtikultura (KBHI) dan sudah berbadan hukum pada 2018. Anggotanya ada di seluruh Indonesia, mulai penangkar, produsen, supplier ke pasar induk, ada juga eksportir dan ada juga pengolah untuk hasil pertanian. Termasuk juga birokrat, profesor dan peneliti perguruan tinggi.  Adanya KBHI ini, saya membuka jaringan dengan berbagai macam komunitas untuk  memperkuat dari segi bisnis dan pemasaran. Ke depannya akan jadi inisiator dan bermitra dengan lembaga terkait untuk mendorong usaha holtikultura dalam skala industri yang berdaya bersaing dan bermartabat,” jelas Aziz.

Terkait kondisi pandemi Corona, Aziz mengatakan jika usahanya tidak terganggu. Malah dia mendapat keuntungan karena adanya kenaikan di masa pandemi ini.

“Kita tidak terpengaruh oleh pandemi, malah cendrung naik sekitar 30 persen karena ada kecendrungan sebagai pilihan untuk rekreasi atau sebagai hiburan oleh masyarakat,” jelasnya.

Proses budidaya bibit alpukat miki

Aziz pun mengatakan jika dia terbuka untuk siapapun yang ingin belajar tentangn pembibitan alpukat ini. Siapapun yang tertarik bisa datang langsung berdiskusi.

“Siapapun yang baru lulus, belum lulus ataupun alumni atau yang sekadar hobi, bisa datang ke sini untuk bisa berdiskusi,”

“Bagi teman-teman yang ingin masuk ke usaha bisnis petanian, termasuk pembibitan ini, potensinya sangat besar. Mulai dari penyedia bibit, reseller maupun pengelola termasuk di dalamnya menjadi konsultan  peluangnya besar.  Kuncinya adalah ketekunan, integritas, dan banyak lakukan  promosi . Ini menjanjikan ke depannya,”  tutupnya. (Mardi/Bekti)

Show More

Related Articles

Back to top button