Artikel

KORPORASI PETANI Amandemen Swasembada Pangan

Oleh
Luwarso
PanganHub

Jargon SWASEMBADA pangan hendaknya harus kita realisasikan. Sejak dahulu, Jargon ini belum mampu Kita wujudkan. Memang sempat terdengar swasembada pangan pernah tercapai pada era orde baru, akan tetapi Hal tersebut masih diperdebatkan kebenarannya.

Pada kondisi saat ini dimana kita berada dalam era internet of thing atau IoT, pengelolaan pertanian terutama pangan harus segera di modernisasi.

Menurut data dari analisis yang telah dilakukan oleh Center for Indonesian Policy Studies(CIPS), faktor utama dalam pengelolaan pangan yang perlu dirubah ialah:

  1. Biaya logistik dan distribusi.
    Biaya ini menempati urutan pertama termahal di dunia yakni 30 % . Bahkan yg dikelola lembaga pemerintah mencapai 56% dari total harga pokok. Dalam kondisi ini, Kita tidak mungkin bs berkompetisi dg harga internasional.
  2. Working Capital Turn over Ratio.
    Indonesia dengan sistem tata niaga yg panjang dan kebijakan single price membuat rasionya menjadi sangat rendah yakni <0,06.

Kondisi ini diharapkan dapat terselesaikan dengan menggunakan apa yg disebut dengan disruptive innovation, tidak lagi menggunakan cara2 “jadul” seperti memakai APBN untuk memberikan subsidi. Diperlukan jg reformasi dari kelembagaan petani yg berbasis teritorial admistratif menjadi berbasis kawasan bisnis dan spasial.

Perhitungan usaha tidak lagi berbasis komoditas musiman, akan tetapu harus berbasis skala ekonomi.

Disruptive innovation dalam pengelolaan pertanian (pangan) yang diperlukan di Indonesia adalah konsep Society 5.0.

Kata kuncinya adalah kolaborasi dan data dengan cara membuat bisnis model supply chain yang halalan toyibbah dan model bisnis start-up yg bertumpu pada kearifan sosiologi masyarakat Indonesia (UUD 1945 pasal 33).

Pilar utama yang diperlukan dalam pembangunan Society 5.0 adalah :

  1. Super Apps
    Apps yang memfasilitasi kolaborasi ( sharing facility) antara korporasi petani, perusahaan tranportasi logistik, e-wallet dg seluruh merchants nya, BPKH, dan Kerajaan Arab saudi. Di proyeksikan nantinya akan ada 31 juta pengguna apps pada saat launching, dan akan tumbuh 70 – 90% tiap tahunnya.
  2. Unik dan inklusif.
    Konsep bisnis model yang hallalan toyyiban mempunyai “magis” atau daya tarik tersendiri untuk merebut pasar. Inklusifisme yang dimaksud dalam hal ini dimaknai sebuah sistem tertutup pada value supply chain, melepaskan ketergantungan industri pangan dengan industri eksisting lain yang berada diluar sistem sehingga terjadi efisiensi dalam input produksi dan biaya secara menyeluruh Dan memiliki Working Capital Turnover Ratio yg tinggi. Hal ini diharapkan bisa menekan cost of product.
  3. IoT dan Big data
    Fasilitas ini digunakan untuk meningkatkan akurasi dan membebaskan sumber data dari bias (human error). Data akan terupdate secara real time.
    IoT akan dipasang di seluruh lahan, lembaga keuangan, pabrik hingga cash register di merchant. Bentuk IoT yang dipasang di lahan antara lain sensor cuaca, tanah, debit air dan berbagai macam sensor yang dipasang di drone (NDVI, termal, ultra sonic, infrared).
    Disamping itu akan dilakukan automasi di masing2 tahapan. Dengan demikian tidak lagi digunakan data entry secara manual. RDKK, sumber data yang lain didapatkan dari big data yang terdownload secara otomatis dari berbagai entitas ilmiah seperti BMKG, Gopasial, lembaga riset, kementrian/ lembaga pemerintah, smart city dan media sosial.
  4. Artificial Intelligence dan business intelligence.
    Kedua perangkat ini memungkinkan bekerjanya suatu sistem dengan cepat dan akurat. Fungsi umum dari teknologi intelijen bisnis meliputi pelaporan , pemrosesan analitis online , penambangan data , penambangan proses , pemrosesan peristiwa kompleks , manajemen kinerja bisnis , benchmarking , penambangan teks , analitik prediktif , dan analitik preskriptif. Dengan demikian sistem ini akan memberikan jaminan berupa mitigasi gagal panen/produksi, efisiensi dan ketepatan dalam penggunaan input maupun sumber pembiayaan/ investasi, serta menjaga keberlanjutan sebuah tatanan pengelolaan pertanian (pangan).
  5. Broadband Network dan Cloud Computing.
    Fasilitas ini memastikan proses kerja dalam sistem teknologi pengelolaan pertanian (pangan) Indonesia bejalan maksimal dan real-time atau tanpa “jeda”.
  6. On Farm.
    Potensi produksi pangan Indonesia secara proritas ;
    a. Konsolidasi petani
    Merupakan petani eksisting yg tersebar di pulau jawa dan bali. Puntensi ini hanya membutuhkan menejemen pengolalaan unt meningkatkan efisiensi dan nilai tambah ( value supply chain management). Pontesi peningkatannya 20 – 30% dari produksi sekarang (cukup unt ketersediaan pangan sampai th 2030) dan ekpor 20 % produk high end nya.
    b. Kawasan transmigrasi
    Murupakan lahan transmigrasi yg sudah ada 22 Kota mandiri terpadu yg sudah siap infrastruktur dasarnya ( sawah, irigasi, dan sumber daya manusia tranpil sbg petani pangan).
    Potensinya penambahan produksi 20 % dari produksi sekarang.
    Cadangan pangan 2 (2035) thn dan ekspor 30 %.
    c. Food estate.
    Ini adalah kawasan terintegrasi dalam luasan berskala industri degan penetapan full mekanisasi dg investasi besar termasuk perubahan mindset petani.
    Sudah ada kawasan yg ada Perpresnya ( kab. Bulungan Kaltara). Indonesia punya sejarah yg kurang baik dlm membangun FE ini, hampir setiap rezim membuat dan gagal.
    Spt lahan satu jt ha, kawasan pangan di meraoke. Ini perlu kajian dan persiapan yg baik dan benar.
    Secara agronomis pencetakan lahan itu butuh waktu tidak kurang 25 thn unt lahan siap menjadi lahan produktif. Kemudian butuh pemidahan budaya bertani dari petani kebun ke tanaman pangan yg banyak tinggal di pulau jawa dan bali sementara diluar itu petani kebun. Ini dlm konsep Korporasi Petani dan Nelayan menjadi program jangka panjang.
Show More

Related Articles

Back to top button